S(c)andalll...!!!

Bener kan apa yang kubilang… anak-anak kos pasti ga mungkin diem aja.
Tadi pagi pas mau ambil wudhu, pintu ke arah dalem kos dikunci! Langsung nyadar deh kalo lagi dikerjain. Pas di kamar mandi, ada bungkusan mencurigakan yang ternyata kado dari mereka. Mau tau apa isinya?
SANDAL!!!
Tau aja mereka kalo sandalku udah raib entah kemana. 

Arigatou, minna… :)

(katanya) Peduli...

Kenapa ada orang yang seenaknya memporak porandakan hati orang, lalu pergi begitu saja?

Kenapa ada orang yang begitu mudahnya berkata “aku peduli”, tapi lalu menghilang saat aku

membutuhkan?

Tidak lebih berharga dari Gitar

Mengapa orang yang pernah menduduki posisi penting dalam hati ini, malah menjadi sumber air mata?

Apa sesuatu yang lebih berharga dari yang lain? Apa yang lebih berharga dari bumi? Dari langit? Dari matahari? Dari bulan? Dari gunung? Dari awan? Yaitu manusia. Aku manusia. Tapi rasanya aku tidak lebih berharga daripada sebuah gitar elektrik di matanya.

Dia pernah bilang, bahwa aku menempati posisi yang penting di hatinya. Tapi ketika aku membutuhkan dia, saat aku ingin dia menelepon, dia malah tidak melakukan apapun selain minta maaf karena tidak punya pulsa. Aku bisa terima jika dia memang tidak punya uang, tapi alasan yang dia katakan adalah, dia sedang berhemat demi beli sebuah gitar listrik.

Hah! Berapa sih harga pulsa? 6 ribu? 7 ribu? Dan dia katakan itu padaku yang sedang dalam kondisi sangat fragile,,, 

So, ternyata dimatanya aku hanya seekor pengganggu. Yang dianggap ada hanya jika perasaannya sedang baik, dan dianggap benalu saat ia sedang dalam keadaan sempit.

Ternyata aku tidak pernah lebih berharga dari sebuah gitar...


Gelar Jepang 2009 @ UI





Memori, Kau Membuka Kisah Lama


Rasa apa ini? Begitu menekan hingga rusuk ini terasa sakit. Berdentum-dentum di dalam, memunculkan kilasan sketsa-sketsa hitam putih. Berkilat. Bercahaya.

Ah, masa lalu...

Begitu hingarnya kala itu, begitu berwarna, dan terasa sampai di sini. Langkah kita, tawa kita, kenakalan kita, tangis kita...

Masih ingatkah dengan sketsa kita di sore 20 Januari?

Tempat kita biasa berdiri di tengah jam sekolah kini masih ada. Tak berubah sejengkalpun, hanya bertambah debu di atasnya...

Atau pesawat kertas ulangan itu?

Atau tarian itu,

Atau sandiwara panggung itu,

Atau tempat kita biasa saling meledek dan tertawa,

Atau ruang UKS tempat kita menghindari upacara sekolah,

Atau dinding kamar mandi yang penuh coret nama kita,

Atau nama ibu penjual soto ayam langganan kita?

Aku takkan lupa...

Bagaimana cara kalian memanggilku saat pertama kalinya kita menciptakan senyum bersama. Aku takkan lupa malam-malam yang kita lalui dengan setumpuk tugas penelitian biologi. Aku takkan lupa wajah penjaga gerbang saat kita ketahuan memanjat pagar sekolah...

Aku takkan lupa isak tangismu saat ia memutuskan untuk pergi. Aku takkan lupa wajah pucatmu saat ada sidak ketertiban sekolah. Dan tempatmu menggantung sepatu putihmu? Aku masih ingat,,, sekarang ia masih bertengger kokoh di tempat yang sama. Dan aku takkan lupa seluruh aroma kebahagiaan saat kita mendapat nilai sempurna untuk drama Replikasi DNA kita... Takkan kulupa wajah bahagia itu, begitu besarnya hingga kita menangis...

Bersama kita mencipta sejarah... juga memori.

Ah, memori...

Tulislah namaku dalam buku harianmu, karena namamu telah kutulis di sini, di dalam hatiku, dengan warna cokelat. Atau biru, atau hijau, atau merah jambu. Atau Pelangi. Semuanya.

I miss u all, my friends... tak terlukiskan rasanya...