Rasa apa ini? Begitu menekan hingga rusuk ini terasa sakit. Berdentum-dentum di dalam, memunculkan kilasan sketsa-sketsa hitam putih. Berkilat. Bercahaya.
Ah, masa lalu...
Begitu hingarnya kala itu, begitu berwarna, dan terasa sampai di sini. Langkah kita, tawa kita, kenakalan kita, tangis kita...
Masih ingatkah dengan sketsa kita di sore 20 Januari?
Tempat kita biasa berdiri di tengah jam sekolah kini masih ada. Tak berubah sejengkalpun, hanya bertambah debu di atasnya...
Atau pesawat kertas ulangan itu?
Atau tarian itu,
Atau sandiwara panggung itu,
Atau tempat kita biasa saling meledek dan tertawa,
Atau ruang UKS tempat kita menghindari upacara sekolah,
Atau dinding kamar mandi yang penuh coret nama kita,
Atau nama ibu penjual soto ayam langganan kita?
Aku takkan lupa...
Bagaimana cara kalian memanggilku saat pertama kalinya kita menciptakan senyum bersama. Aku takkan lupa malam-malam yang kita lalui dengan setumpuk tugas penelitian biologi. Aku takkan lupa wajah penjaga gerbang saat kita ketahuan memanjat pagar sekolah...
Aku takkan lupa isak tangismu saat ia memutuskan untuk pergi. Aku takkan lupa wajah pucatmu saat ada sidak ketertiban sekolah. Dan tempatmu menggantung sepatu putihmu? Aku masih ingat,,, sekarang ia masih bertengger kokoh di tempat yang sama. Dan aku takkan lupa seluruh aroma kebahagiaan saat kita mendapat nilai sempurna untuk drama Replikasi DNA kita... Takkan kulupa wajah bahagia itu, begitu besarnya hingga kita menangis...
Bersama kita mencipta sejarah... juga memori.
Ah, memori...
Tulislah namaku dalam buku harianmu, karena namamu telah kutulis di sini, di dalam hatiku, dengan warna cokelat. Atau biru, atau hijau, atau merah jambu. Atau Pelangi. Semuanya.
I miss u all, my friends... tak terlukiskan rasanya...